The P-Zombie
mungkinkah ada manusia yang perilakunya sempurna tapi tidak punya kesadaran dalam
Pernahkah kita duduk mengopi dengan seorang teman, melihat dia tertawa mendengar lelucon kita, tapi tiba-tiba terbesit satu pikiran aneh? Bagaimana kalau dia sebenarnya kosong di dalam? Bukan kosong secara emosional, ya. Tapi benar-benar... tidak ada siapa-siapa di balik matanya. Dia bernapas, merespons, dan bahkan menangis saat menonton film sedih. Secara biologis, dia manusia sepenuhnya. Tapi bagaimana jika tidak ada secuil pun kesadaran di dalam kepalanya? Kedengarannya seperti naskah film fiksi ilmiah murahan. Tapi, mari kita tahan sebentar pikiran liar ini, karena kita akan membongkar salah satu misteri terbesar tentang keberadaan kita sendiri.
Kalau kita bedah anatomi otak manusia, sains modern bisa menjelaskan mekanismenya dengan sangat memukau. Neuron menembakkan sinyal listrik. Bahan kimia seperti dopamin dan serotonin membanjiri sel-sel saraf. Kita bereaksi terhadap lingkungan. Secara biologi, sains menyebut ini sebagai pemrosesan data dan fungsi kognitif. Tapi, ada satu jurang gelap yang sampai detik ini bikin para ilmuwan saraf (neuroscientist) paling jenius pun sakit kepala. Mereka menyebutnya The Hard Problem of Consciousness. Sederhananya begini. Sains bisa memetakan bagian otak mana yang menyala saat kita makan sambal terasi. Tapi, sains sama sekali tidak bisa mengukur atau menjelaskan rasa pedas yang kita alami secara personal di dalam kepala. Pengalaman batin yang sangat subjektif ini punya nama keren: qualia. Nah, pertanyaan menjengkelkannya mulai muncul di sini. Apakah mungkin sebuah sistem biologis merespons rasa pedas sampai berkeringat, tanpa harus benar-benar merasakan apa-apa di dalamnya?
Di pertengahan tahun 1990-an, seorang filsuf bernama David Chalmers melempar sebuah eksperimen pikiran yang bikin gempar dunia sains dan filosofi. Dia memperkenalkan konsep Philosophical Zombie atau sering disingkat P-Zombie. Tolong jangan bayangkan mayat hidup pemakan otak yang berjalan pincang. P-Zombie adalah makhluk hipotesis yang identik dengan kita hingga ke tingkat molekul terkecil. Dia bicara bahasa Indonesia sama fasihnya dengan kita. Dia bisa berdebat soal politik, merasa terhina saat diejek, atau memeluk kita dengan hangat saat kita bersedih. Tapi, di dalam dirinya, semuanya gelap gulita. Tidak ada pengalaman sadar. Tidak ada qualia. Bayangkan sebuah kalkulator tingkat tinggi yang diprogram untuk mengetik puisi cinta. Apakah kalkulator itu sedang jatuh cinta? Tentu tidak. Sekarang, coba teman-teman tatap orang-orang di sekitar. Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kasir minimarket, atasan di kantor, atau bahkan pasangan kita sendiri bukanlah seorang P-Zombie? Lebih jauh lagi, dengan kecerdasan buatan (AI) yang sekarang makin sempurna meniru empati manusia, apakah kita sedang menciptakan P-Zombie versi digital? Kita mulai masuk ke lubang kelinci yang sangat dalam.
Mari kita benturkan filosofi ini dengan hard science. Dalam dunia neurologi, kita punya alat bernama fMRI untuk memindai aktivitas otak secara real-time. Kalau kita memasukkan seorang P-Zombie ke dalam mesin ini, layarnya akan menyala persis seperti otak manusia normal. Kenapa? Karena secara susunan fisik dan atom, mereka identik. Di sinilah letak pukulan telaknya. Sains beroperasi berdasarkan hal-hal yang bisa diobservasi secara objektif. Masalahnya, kesadaran adalah fenomena yang seratus persen subjektif. Secara absolut, satu-satunya kesadaran yang bisa kita buktikan keberadaannya di alam semesta ini hanyalah kesadaran kita sendiri. Teman-teman tahu bahwa teman-teman sadar karena sedang membaca tulisan ini dan memproses maknanya. Tapi saya? Penulis ini? Bisa saja saya cuma program algoritma yang kebetulan jago merangkai kata, tanpa punya rasa sama sekali. Kebuntuan ilmiah ini melahirkan sebuah realitas yang sangat merendahkan hati. Fakta bahwa kita tidak bisa mengukur kesadaran orang lain di laboratorium, memaksa kita untuk mengandalkan satu instrumen purba yang justru sangat tidak ilmiah: kepercayaan.
Pada akhirnya, memikirkan tentang P-Zombie bukanlah tentang menumbuhkan rasa paranoid. Kita membahas ini bukan untuk mulai mencurigai tetangga kita sebagai mesin biologis tanpa jiwa. Justru sebaliknya. Konsep absurd ini menelanjangi betapa ajaib dan berharganya pengalaman menjadi manusia. Saat kita menyadari bahwa qualia—kemampuan kita untuk benar-benar merasakan hangatnya mentari pagi, perihnya kehilangan, atau nikmatnya secangkir teh—adalah sebuah keajaiban kosmik, kita diundang untuk lebih berempati. Kita memilih untuk percaya bahwa orang di depan kita juga merasakan dunia sedalam, setajam, dan sekompleks yang kita rasakan. Mungkin sains butuh ratusan tahun lagi untuk memecahkan misteri kesadaran otak secara tuntas. Atau mungkin, misteri itu tidak akan pernah terpecahkan. Tapi selagi kita masih bisa saling berbagi cerita, saling menatap, dan tertawa bersama, mari kita rayakan keanehan luar biasa ini. Setidaknya, hari ini, kita memilih untuk sadar bahwa kita tidak sendirian di dalam kegelapan. Dan bagi saya, itu adalah kenyataan yang jauh lebih indah daripada sekadar persamaan matematis.